Monday, July 15, 2013

Pacific Rim Review by iRenk


Salah satu alasan saya menyukai nonton film di bioskop adalah bioskop dapat memamerkan level tontonan dimana home theater tidak dapat samakan. Tak peduli berapa besar ukuran TV anda, dan tak peduli berapa biji speaker yang anda punya, tak ada yang bisa menggantikan apa yang bisa bioskop tawarkan (kecuali anda punya bioskop pribadi). Banyak film blockbuster mencoba memaksimalkan potensi layar raksasa di bioskop, tapi ini bukan masalah "lebih besar lebih baik". Harus ada bobot dan detil serta bagaimana semua terangkai hingga bisa mengantar kita ke dunia yang berbeda. Pada Pacific Rim, sutradara dan co-writer Guillermo del Toro tidak hanya telah mendobrak batas tingkatan ukuran yang bisa kita tonton di bioskop, tetapi juga menyuguhkan dasar pemikiran imajinatif tentang bagaimana monster dan robot bergulat ke arah dunia yang lebih nyata dan berwarna-warni. Sayangnya, dunia tersebut berjuang untuk sesuatu yang minim plot dan tipis akan karakter.

Loncat saja jika ingin melanjutkan membaca.

Wednesday, July 3, 2013

Man of Steel Review by iRenk



Judul "Man of Steel" sudah jelas menunjukkan apa yang akan anda tonton saat anda membeli tiket film blockbuster musim panas ini. Minus kata "Superman" seolah membisikkan kita bahwa film ini hanya sebatas reboot bukan pencitraan ulang dari luar ke dalam. Entah anda membenarkan hasilnya atau tidak, bergantung pada pendapat anda tentang Superman atau Superman yang seharusnya. Bagaimanapun, ini adalah cerita versi tahun 2013 : luar biasa megah, gelap, rumit dan penuh kekerasan. Film ini baik hati dan tulus namun tidak bisa dibilang lucu atau manis. Ini adalah Superman yang urakan, terasingkan, frustasi dan keren tetapi tidak menutup pintu untuk romansa, menjaga planet yang sedang terancam bahaya dari jajahan ras alien tangguh dan ancaman kiamat bagi penghuni Bumi hingga siapa saja yang bersedia membela dibutuhkan nyali baja untuk menyelamatkannya. Dia adalah yang terbaik dari dua dunia tetapi kepemilikannya belum tentu di keduanya. Man of Steel milik Zack Snyder ini mencoba mengangkat inti konflik tersebut, tapi gagal dalam menyentuh hati Superman. Hampir semua yang mengelilingi karakter ini menakjubkan dari set pieces hingga ke perubahan struktur cerita asal, musik score, serta perjalanan yang di tempuh sebelum memakai jubah birunya. Tetapi di dalam jubah itu, sama seperti judulnya, tak ada Superman.

Ingin tahu kenapa? Loncat saja jika ingin melanjutkan membaca.

Friday, June 28, 2013

Pixar Short THE BLUE UMBRELLA Review


Setelah beberapa waktu lalu saya dikaruniai anak pada bulan januari tahun ini. Rasanya susah mencari waktu untuk iseng menulis review tentang film lagi, bahkan untuk menonton film di bioskop pun tidak semudah dulu. Ada beberapa judul yang pantas untuk saya review disini, sebagai pemanasan jari - jari untuk review judul - judul berikutnya saya mulai dulu dengan sebuah film animasi pendek yang di putar sebagai pembuka film animasi Monsters University milik Pixar. 

Seperti film - film animasi pendek milik pixar sebelumnya,  The Blue Umbrella absen akan dialog dan panjang terhadap penggunaan isyarat visual dan musikal untuk menunjukkan emosi. Dalam hal ini, cerita memusatkan pada pertemuan imut dua payung berwarna cerah disaat hujan deras di keramaian kota. Loncat saja untuk mengetahui betapa bedanya dari film animasi pendek milik pixar lainnya 

Friday, December 7, 2012

Life of Pi Review by iRenk



Waktu pertama melihat trailer film berjudul Life of Pi  awalnya saya kira hanya kisah adaptasi novel fantasi belaka yang sedang gandrung di kerjakan studio-studio besar di hollywood. Berdasarkan novel karya Yann Martel, kaget saja saya saat melihat nama Ang Lee bertugas sebagai sutradara film ini. Anehnya lagi saat melihat jajaran nama-nama aktor dan aktris seperti Suraj Sharma, Irrfan Khan, Adil Hussain, Tabu, Rafe Spall dan Gerard Depardieu bukan nama yang cukup familiar di telinga kita. Mungkin hanya Irrfan Khan saja yang saya tahu karena sering unjuk muka di film hollywood seperti Amazing Spider-man atau drama kaliber oscar Slumdog Millionaire. Namun jika anda dapat memberi peluang dan menaruh kepercayaan pada sutradara peraih oscar, anda akan mengalami pengalaman cerita yang di tulis indah tentang survival, penemuan jati diri, arti kemenangan dari jiwa manusia dan pencarian arti kehidupan. Semua di bungkus dengan narasi mondar-mandir yang di dalamnya terdapat spesial efek mengagumkan serta penggunaan dimensi tambahan pada teknologi 3D yang bisa dikatakan terpuji (didukung penuh oleh si penggagas 3D nya sendiri yaitu James Cameron dan Vincent Pace).


Sementara materi penjualan film ini terfokus pada segi-segi eksotik dari pencitraan film dan ceritanya yang mengagumkan, filmnya sendiri merupakan pengalaman yang lebih luas. Film dibuka panjang dan lama dengan urutan nama-nama yang terlibat dibalik film, terdengar membosankan memang tapi kita disuguhi bermacam-macam hewan yang bakal terlibat di dalamnya sambil membangun image dengan tekstur kaya akan warna-warni dan jernih yang akan ditunjukkan Lee sepanjang film (sangat terlihat kehebatan dari kamera Arri Alexa, dengan lensa Zeiss Master Prime), pewarnaan tersebut menciptakan efek situasi sejuk dan damai untuk dinikmati penonton. Buat saya sangat menyegarkan saat nyaman dengan kondisi ini, karena tidak banyak film akhir-akhir ini  yang bisa mengajak penonton santai di awal film, bahkan momen-momen seperti ini bisa saya rasakan banyak tersempil di alur cerita sampai penghujung film.